Apa arti sebuah kesempurnaan?
Aku ingin dia tak berarti apa-apa
Aku ingin dia tak berarti bagi siapa saja
Aku ingin dia tak berprestise
Bosan dengan kata sempurna itu
Siapa saja menginginkannya
Dan selalu berusaha menjadinya
Namun semua seakan kotor
Sempurna penuh tendensi
Sempurna tak sepenuh hati
Sempurna tak benar-benar sempurna
Sempurna tanpa arti
Lalu, bukankah lebih baik sempurna itu tak berarti???
Bukankah saat merasa kurang, itulah sempurna
Saat merasa tak sempurna, itulah sempurna
Ah, bosan!
El_Funny
Kairo 210808
10:25
Kesempurnaan tak berarti
Posted by Mara el_Funny at 10:42 AM 3 comments
Baik bukan berarti "yang terbaik"
Baik bukan berarti “yang terbaik”
14.56
Dimana-mana, orang selalu berusaha mencari sesuatu yang baik, lalu menganggap semua itu lah yang terbaik baginya.
Berusaha mencari, mengejar dan memiliki “baik”itu. Kekurangan menjadi satu hal yang terdiskreditkan. Sama sekali tidak terakui eksistensinya. Atau kalaupun ada, hampir tak ada yang bersedia menyentuhnya. Yah, itulah manusia, makhluk Tuhan yang berpotensi menjadi makhluk yang paling serakah di antara yang lainnnya.
Hanya saja logika manusia sering terkalahkan dengan suara nafsu yang mengaku sebagai naluri. Semua selalu ada legalisasi, kompromi yang tak kenal etika.
Tentu saja, tak bisa di pungkiri, sebuah kesempurnaan memang menjadi satu hal yang idam-idamkan manusia. Entah dari dirinya sendiri ataupun orang lain. Menjadi sempurna untuk mendapatkan kesempurnaan. Sekilas, memang indah. Namun apakah kesempurnaan itulah yang terbaik baginya? Wallahua’lam.
Mencibir kekurangan tanpa pikir panjang. Tidak mencoba mencari sesuatu di baliknya. Tidak mencoba memahami apa yang di simpannya. Toh, kekurangan tak selamanya menjadi dirinya. Ah, seandainya semua orang memahaminya, termasuk aku.
Baik sendiri itu olahan subjektifitas manusia. Yang natijahnya pun akan selalu menjadi relatif, meski tidak menutup kemungkinan barometer umum itu akan terbangun dengan adanya suara mayoritas. Baik menurut satu orang, belum tentu baik menurut yang lain, terlebih lagi menurut-Nya. Aku sendiri belum menemukan mizan yang pas untuk menentukannya.
Tapi memang benar, manusia memang harus selalu mencoba untuk melakukan yang terbaik bagi apa dan siapa saja. Perintah Tuhan juga bukan?!
Lalu bagaimana dengan sesuatu yang akan di dapatkan?
Apakah harus mencoba mendapat yang baik juga?
Yaps, betul. Manusia pun harus selalu mencoba untuk mendapatkan yang baik. Hanya saja, sang muara bukanlah itu, tetapi "yang terbaik". Karena sesuatu yang baik (menurut kita-manusia-) belum tentu yang terbaik. Baik dan terbaik it berbeda. Persamaannya hanyalah, keduanya sama-sama di inginkan oleh manusia.[regards]
DH Palace, 11 Nov 2008
By: El_Funny
Posted by Mara el_Funny at 9:27 AM 1 comments
Seandainya aku seorang Khadijah...
Begitu indahY menjadi sosok wanita ideal, pendamping manusia tersempurna
Seandainya aku seorang Aisyah ra
begitu bahagianya menjadi wanita cerdas dan begitu di puja oleh hamba tercinta-Nya
kenapa selalu banyak "seandainya" yah?
Tapi aku tetap bersyukur, karena aku adalah milik-Nya
[regards]
Posted by Mara el_Funny at 12:19 PM 0 comments
Ilusi di atas Ilusi
Bagaimana aku bisa tidak menyadari "siapa aku?"
Bahkan aku masih sempat mengatakan "aku adalah aku"
Dengan penuh kepercayaan diri, aku bilang "aku ada"
Dengan satu jiwa sombong berdalih "aku bisa"
Perbuatanku mengatakan "Aku sedang melakukannya"
Aku
Aku
dan Aku...
Aku adalah Ilusi
Aku hidup di atas Ilusi
Saat aku mengatakan aku ada
Itulah sebuah Ilusi di atas ilusi
Yah, semua memang ilusi
Hanya Dia-lah yang Hakiki
Rabbi maafkan kami
Para Ilusi
yang sering tak menyadari siapa-lah kami
Terlebih lagi
"Aku"
[Regards]
Posted by Mara el_Funny at 6:52 AM 0 comments
IDUL FITRI
To: The readers of my blog
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
Mohoh maaf lahir dan batin
Semua orang mengatakan hari ini, adalah hari kemenangan
So, aku berdoa, semoga kita semua memang benar-benar menjadi salah satu pemenang itu
Semua orang mengatakan hari ini, adalah hari kita menjadi suci kembali
So, aku berdoa, semoga kita semua memang benar-benar menjadi sesuci yang kita inginkan
Semua orang mengatakan, hari ini adalah hari besar umat-Nya
So, aku berdoa, semoga kita benar-benar menjadi "besar" untuk-Nya
Sekedar mempelajari apa yang bisa membuat-Nya mencintai kita:).
regards
Posted by Mara el_Funny at 9:53 AM 0 comments
Fiuuuhhh…ada aja!!!
Yah…sekarang tepat pukul 00:10 WK. Itu artinya, sepuluh menit yang lalu, aku telah memasuki hari yang baru. Btw…sekarang hari apa yah???
Wew…hu uh2, Yaps Senin.
Hari ini (kemarin maksudnya -sepuluh menit yang lalu-:D), bisa di bilang hari yang cukup melelahkan. Seharian jadi manusia jalanan, wekeke. Tapi insyaallah di jalan Allah kok (Ya iyalah, masak ya iya dunk).
Hmm…tapi bener-bener kehidupan yang indah…
Jam 08.00 aku harus segera prepare buat ngikut majmuáh* anak-anak baru. Yah, meski aku tidak bisa di bilang anak baru (Dah hampir tingkat akhir boo’:D), tapi aku termasuk pendatang baru di dunia ini (tasawuf-red). Hemm…pagi sekali untuk ukuran Kairo, yang notabene punya sirkulasi kehidupan yang terbalik. Kalo Peterpan yang nyanyi sih nggak pake kata sirkulasi terbalik. Langsung aja “kaki di kepala, kepala di kaki”, hue3x.
Agenda yang di rencanakan berikutnya, ikutan TALK SHOW-nya Word Smart Center plus technical meeting buat pelatihan 2 bulan kedepan. Jam 11:00 tepat!!!, gitu sih kata panitianya:D. But…bukan maksud melestarikan tradisi memalukan manusia Indonesia yang doyan ngaret sih, hanya saja pagi tadi aku benar-benar harus telat 2 jam dari jadwal semula. Humm…gimana nggak?!. Ngaji paginya belom kelar-kelar. Prediksi awal sih selesai sekitar jam 12:00 (GPP lah, telat sejam ke KPMJBnya), but…karena keasyikan dengerin mukhadarah sang Ustadz el-karim, jadi nggak rela juga ninggalin tuh majmuáh. Yah…maksud hati sih, biar seimbang, bisa dapet semua tanpa ada yang di korbanin.
Dan yaps…I couldn’t do anything. Just waiting for a permission!!!
Akhirnya, pukul 13:00 WK baru bisa nongol di pasanggrahan KPMJB. Hohoho…meski sedikit malu n nggak enak, nekat saja aku masuk (Ya iyalah, masak mau jaga di luar, weks).
Konklusi awal…
I was meeting => 3 presentator yang subhanallah…
Hem…nothing to say, just I like them!!!
Alhamdulillah…selesai juga akhirnya.
Pulang ke rumah sekitar jam setengah 6 sore. it’s the time for preparing “majelis dzikir” ba‘da maghrib. Ups…ternyata aku lupa, sebelum maghrib masih ada ngaji bersama Sang Ustadz tercinta. Humm…untungnya ngajinya nggak terlalu berat. Just about life, n I like it. Jadid hayatak milik Muhammad al-Ghozali pun jadi santapan kita.
GUBRAKK…sepertinya mataku dah nggak bisa di ajak kompromi deh. Ba’da maghrib rasanya dah pengen KO aja. Ngelihat bantal plus guling (nggak pake selimut, musim panas euy), jadi pengen tidur aja. Padahal majelis dzikir baru aja mau di mulai, hiks.
But…Nggak bisa!!!. Keenakan para setan dunk kalo ku turutin, ha3x. Ogah ah nemenin mereka. Mending masuk hamam, cuci muka plus tajdid al-Niyyah. Humm…YES, dunia kembali bersahabat denganku. Semangat itu masih tersisa rupanya.
Alhamdulillah…jam 23:30 kegiatanku berakhir.
Intermezo sebelum tidur => Curhat di Catatan harianku.
Dan…saatnya tiduuur…
Semoga Allah masih mengizinkanku melakukan sesuatu untuk-Nya esok hari.
Amin…
Regards
El_Funny
4 Agustus 2008
01:05
Posted by Mara el_Funny at 3:49 AM 0 comments
Terlalu sulit mendeteksi “Lillah” itu…
Ah…apa itu Lillahita’ala???
Karena Allah?
Hanya untuk Allah?
Hemm…mungkin saja seperti itu.
Bukan hal yang sulit untuk mengatakan, “aku melakukan semua ini lillahita’ala”, “aku beribadah lillahita’ala”, “aku beramal lillahita’ala”, bahkan “aku mencintaimu lillah”. Ah…bagiku terlalu mudah untuk sekedar mengeluarkan kata-kata itu dari mulut manusia.
Seandainya kata-kata itu bisa di jual. Mungkin saja akan ada berjuta-juta orang yang akan membelinya. Tidak menutup kemungkinan para manusia itu akan menumpuknya sebagai stok untuk di jadikan simbol dalam mengiringi segala tingkah lakunya.
Aku tidak yakin “lillah” itu banyak termiliki oleh makhluk yang bernama manusia. Terlalu banyak hal dalam sesuatu. “Lillah” dan “tendensi” itu berbanding begitu tipis. Banyak orang yang mengecoh dan terkecoh dengannya. Yah, sekali lagi hanya simbol. Dan itu semua bullshit!.
Teramat sulit melakukan sesuatu hanya untuk-Nya. SANGAT!!!
Banyak tedensi yang berdiri tegak dengan kemilauan cahaya fananya. Dan sayangnya, sering kita terlelap dengannya, tak sadar!
Hanya kalangan elitis (di hadapan-Nya) lah yang mampu melakukannya. Dan sekali lagi, sangat sulit terdeteksi. Orang-orang tertentu, pilihan, dan hamba ideal yang di inginkan-Nya lah yang mungkin bisa sampai pada tahap itu.
Barometer “Lillah”, bukanlah ikhlas dhohiri yang hanya terlacak via asumsi mata yang melihatnya. Tidak menutup kemungkinan memang, namun ibarat data, validitasnya perlu di pertanyakan. Bukankah don’t judge anything by the cover?. kecantikan cover bisa di rekayasa oleh layouternya. Dan mungkin itulah yang sering kita lakukan dalam lelap kita. Tanpa ada khudlur dengannya, namun sebaliknya, dalam kondisi yang futhur.
Lillah, perlu dzauq. Lillah perlu ikhlas internal. Lillah perlu khudur. Lillah tak kenal tendensi, obsesi apalagi ambisi. Lillah hanya bisa di ketahui oleh dua pihak, dia dan Dia.
Mungkin saja dalam lelapku aku mengatakan, “Aku ingin bershadaqah lillah”. Yap, mungkin saja seorang aku benar-benar lillah. Tapi, tidak menutup kemungkinan seorang aku sedang lupa begitu saja dengan konsekuensi yang di harapkan oleh nuraniku. Dengan mencoba untuk tidak menyadari bahwa aku memang menginginkan sebuah pujian. Atau mungkin saja balasan dari manusia yang lain. Atau bahkan demi sebuah nama baik. Atau bahkan surga. Hmm…lalu itukah lillah?
Atau bahkan saat seseorang mengatakan “Aku mencintaimu lillah”. apa itu?
Yakin cinta itu lillah?…sebentar, tak perlu sebuah jawaban sepertinya. Untuk satu statemen ini, agaknya perlu seribu pertanyaan untuk mengambil sebuah kesimpulan.
Lalu atas dasar apa seseorang mencintai?
Menginginkan?
Ambisi?
Kepentingan?
Nafsu?
Prestise?
Atau apa?
Bahkan dengan seorang teman. Misalnya saja, seorang aku mencintai seorang sahabat. Bukan hal yang sulit untuk mengatakan semua itu hanya untuk-Nya. Hanya saja, terkadang seorang aku lupa atas sebuah kepentingan. Mungkin aku menyukainya karena dia pandai, ramah dan baik bagi seorang aku. Dengan sahabat itu, dia bisa melakukan apa yang dia inginkan. Sahabat itu mampu mendukung seorang aku untuk mencapai idealismenya. Atau bahkan seorang aku hanya merasa lebih nyaman bersamanya. Tidak ingatkah bahwa semua itu masih berbalut warna putihnya sebuah kepentingan?
Ah…lalu itukah lillah?
Aku tak ingin menodai kata itu. Lillah adalah lillah.
Tak ada kata yang patut untuk mendeskripsikannya. Terlalu suci dan sakral.
Lillah tak mengenal hijab antara dia dan Dia.
Tak ada tendensi apapun…
Yah hanya Lillah
Dan itu sangat SULIT!!!
Wallahua’lam
Akupun tak tahu bagaimana cara melakukannya
Rabbi, tunjuki kami
Hanya jangan keluarkan kami dari koridormu
Bantu kami mencintai-Mu
Bukankah cintaMu kepada kami lebih besar dari pada cinta kita untuk-Mu?
Rabbi…
Maafkan kami
[Regards]
El_Funny
0400808 =>02:45
Posted by Mara el_Funny at 3:46 AM 0 comments
