Selamat Datang di Kampung Maya Si Gadis Ceria

Seandainya aku seorang Khadijah...
Begitu indahY menjadi sosok wanita ideal, pendamping manusia tersempurna

Seandainya aku seorang Aisyah ra
begitu bahagianya menjadi wanita cerdas dan begitu di puja oleh hamba tercinta-Nya

kenapa selalu banyak "seandainya" yah?
Tapi aku tetap bersyukur, karena aku adalah milik-Nya
[regards]

Ilusi di atas Ilusi

Bagaimana aku bisa tidak menyadari "siapa aku?"
Bahkan aku masih sempat mengatakan "aku adalah aku"
Dengan penuh kepercayaan diri, aku bilang "aku ada"
Dengan satu jiwa sombong berdalih "aku bisa"
Perbuatanku mengatakan "Aku sedang melakukannya"

Aku
Aku
dan Aku...

Aku adalah Ilusi
Aku hidup di atas Ilusi
Saat aku mengatakan aku ada
Itulah sebuah Ilusi di atas ilusi
Yah, semua memang ilusi

Hanya Dia-lah yang Hakiki
Rabbi maafkan kami
Para Ilusi
yang sering tak menyadari siapa-lah kami

Terlebih lagi
"Aku"

[Regards]

IDUL FITRI

To: The readers of my blog

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
Mohoh maaf lahir dan batin

Semua orang mengatakan hari ini, adalah hari kemenangan
So, aku berdoa, semoga kita semua memang benar-benar menjadi salah satu pemenang itu

Semua orang mengatakan hari ini, adalah hari kita menjadi suci kembali
So, aku berdoa, semoga kita semua memang benar-benar menjadi sesuci yang kita inginkan

Semua orang mengatakan, hari ini adalah hari besar umat-Nya
So, aku berdoa, semoga kita benar-benar menjadi "besar" untuk-Nya

Sekedar mempelajari apa yang bisa membuat-Nya mencintai kita:).

regards

Fiuuuhhh…ada aja!!!

Yah…sekarang tepat pukul 00:10 WK. Itu artinya, sepuluh menit yang lalu, aku telah memasuki hari yang baru. Btw…sekarang hari apa yah???
Wew…hu uh2, Yaps Senin.

Hari ini (kemarin maksudnya -sepuluh menit yang lalu-:D), bisa di bilang hari yang cukup melelahkan. Seharian jadi manusia jalanan, wekeke. Tapi insyaallah di jalan Allah kok (Ya iyalah, masak ya iya dunk).

Hmm…tapi bener-bener kehidupan yang indah…

Jam 08.00 aku harus segera prepare buat ngikut majmuáh* anak-anak baru. Yah, meski aku tidak bisa di bilang anak baru (Dah hampir tingkat akhir boo’:D), tapi aku termasuk pendatang baru di dunia ini (tasawuf-red). Hemm…pagi sekali untuk ukuran Kairo, yang notabene punya sirkulasi kehidupan yang terbalik. Kalo Peterpan yang nyanyi sih nggak pake kata sirkulasi terbalik. Langsung aja “kaki di kepala, kepala di kaki”, hue3x.

Agenda yang di rencanakan berikutnya, ikutan TALK SHOW-nya Word Smart Center plus technical meeting buat pelatihan 2 bulan kedepan. Jam 11:00 tepat!!!, gitu sih kata panitianya:D. But…bukan maksud melestarikan tradisi memalukan manusia Indonesia yang doyan ngaret sih, hanya saja pagi tadi aku benar-benar harus telat 2 jam dari jadwal semula. Humm…gimana nggak?!. Ngaji paginya belom kelar-kelar. Prediksi awal sih selesai sekitar jam 12:00 (GPP lah, telat sejam ke KPMJBnya), but…karena keasyikan dengerin mukhadarah sang Ustadz el-karim, jadi nggak rela juga ninggalin tuh majmuáh. Yah…maksud hati sih, biar seimbang, bisa dapet semua tanpa ada yang di korbanin.

Dan yaps…I couldn’t do anything. Just waiting for a permission!!!

Akhirnya, pukul 13:00 WK baru bisa nongol di pasanggrahan KPMJB. Hohoho…meski sedikit malu n nggak enak, nekat saja aku masuk (Ya iyalah, masak mau jaga di luar, weks).
Konklusi awal…
I was meeting => 3 presentator yang subhanallah…
Hem…nothing to say, just I like them!!!

Alhamdulillah…selesai juga akhirnya.

Pulang ke rumah sekitar jam setengah 6 sore. it’s the time for preparing “majelis dzikir” ba‘da maghrib. Ups…ternyata aku lupa, sebelum maghrib masih ada ngaji bersama Sang Ustadz tercinta. Humm…untungnya ngajinya nggak terlalu berat. Just about life, n I like it. Jadid hayatak milik Muhammad al-Ghozali pun jadi santapan kita.
GUBRAKK…sepertinya mataku dah nggak bisa di ajak kompromi deh. Ba’da maghrib rasanya dah pengen KO aja. Ngelihat bantal plus guling (nggak pake selimut, musim panas euy), jadi pengen tidur aja. Padahal majelis dzikir baru aja mau di mulai, hiks.
But…Nggak bisa!!!. Keenakan para setan dunk kalo ku turutin, ha3x. Ogah ah nemenin mereka. Mending masuk hamam, cuci muka plus tajdid al-Niyyah. Humm…YES, dunia kembali bersahabat denganku. Semangat itu masih tersisa rupanya.

Alhamdulillah…jam 23:30 kegiatanku berakhir.
Intermezo sebelum tidur => Curhat di Catatan harianku.

Dan…saatnya tiduuur…
Semoga Allah masih mengizinkanku melakukan sesuatu untuk-Nya esok hari.
Amin…

Regards
El_Funny
4 Agustus 2008
01:05

Terlalu sulit mendeteksi “Lillah” itu…

Ah…apa itu Lillahita’ala???
Karena Allah?
Hanya untuk Allah?
Hemm…mungkin saja seperti itu.

Bukan hal yang sulit untuk mengatakan, “aku melakukan semua ini lillahita’ala”, “aku beribadah lillahita’ala”, “aku beramal lillahita’ala”, bahkan “aku mencintaimu lillah”. Ah…bagiku terlalu mudah untuk sekedar mengeluarkan kata-kata itu dari mulut manusia.

Seandainya kata-kata itu bisa di jual. Mungkin saja akan ada berjuta-juta orang yang akan membelinya. Tidak menutup kemungkinan para manusia itu akan menumpuknya sebagai stok untuk di jadikan simbol dalam mengiringi segala tingkah lakunya.

Aku tidak yakin “lillah” itu banyak termiliki oleh makhluk yang bernama manusia. Terlalu banyak hal dalam sesuatu. “Lillah” dan “tendensi” itu berbanding begitu tipis. Banyak orang yang mengecoh dan terkecoh dengannya. Yah, sekali lagi hanya simbol. Dan itu semua bullshit!.
Teramat sulit melakukan sesuatu hanya untuk-Nya. SANGAT!!!
Banyak tedensi yang berdiri tegak dengan kemilauan cahaya fananya. Dan sayangnya, sering kita terlelap dengannya, tak sadar!

Hanya kalangan elitis (di hadapan-Nya) lah yang mampu melakukannya. Dan sekali lagi, sangat sulit terdeteksi. Orang-orang tertentu, pilihan, dan hamba ideal yang di inginkan-Nya lah yang mungkin bisa sampai pada tahap itu.

Barometer “Lillah”, bukanlah ikhlas dhohiri yang hanya terlacak via asumsi mata yang melihatnya. Tidak menutup kemungkinan memang, namun ibarat data, validitasnya perlu di pertanyakan. Bukankah don’t judge anything by the cover?. kecantikan cover bisa di rekayasa oleh layouternya. Dan mungkin itulah yang sering kita lakukan dalam lelap kita. Tanpa ada khudlur dengannya, namun sebaliknya, dalam kondisi yang futhur.

Lillah, perlu dzauq. Lillah perlu ikhlas internal. Lillah perlu khudur. Lillah tak kenal tendensi, obsesi apalagi ambisi. Lillah hanya bisa di ketahui oleh dua pihak, dia dan Dia.

Mungkin saja dalam lelapku aku mengatakan, “Aku ingin bershadaqah lillah”. Yap, mungkin saja seorang aku benar-benar lillah. Tapi, tidak menutup kemungkinan seorang aku sedang lupa begitu saja dengan konsekuensi yang di harapkan oleh nuraniku. Dengan mencoba untuk tidak menyadari bahwa aku memang menginginkan sebuah pujian. Atau mungkin saja balasan dari manusia yang lain. Atau bahkan demi sebuah nama baik. Atau bahkan surga. Hmm…lalu itukah lillah?

Atau bahkan saat seseorang mengatakan “Aku mencintaimu lillah”. apa itu?
Yakin cinta itu lillah?…sebentar, tak perlu sebuah jawaban sepertinya. Untuk satu statemen ini, agaknya perlu seribu pertanyaan untuk mengambil sebuah kesimpulan.

Lalu atas dasar apa seseorang mencintai?
Menginginkan?
Ambisi?
Kepentingan?
Nafsu?
Prestise?
Atau apa?

Bahkan dengan seorang teman. Misalnya saja, seorang aku mencintai seorang sahabat. Bukan hal yang sulit untuk mengatakan semua itu hanya untuk-Nya. Hanya saja, terkadang seorang aku lupa atas sebuah kepentingan. Mungkin aku menyukainya karena dia pandai, ramah dan baik bagi seorang aku. Dengan sahabat itu, dia bisa melakukan apa yang dia inginkan. Sahabat itu mampu mendukung seorang aku untuk mencapai idealismenya. Atau bahkan seorang aku hanya merasa lebih nyaman bersamanya. Tidak ingatkah bahwa semua itu masih berbalut warna putihnya sebuah kepentingan?
Ah…lalu itukah lillah?

Aku tak ingin menodai kata itu. Lillah adalah lillah.
Tak ada kata yang patut untuk mendeskripsikannya. Terlalu suci dan sakral.

Lillah tak mengenal hijab antara dia dan Dia.
Tak ada tendensi apapun…
Yah hanya Lillah

Dan itu sangat SULIT!!!

Wallahua’lam
Akupun tak tahu bagaimana cara melakukannya

Rabbi, tunjuki kami
Hanya jangan keluarkan kami dari koridormu
Bantu kami mencintai-Mu
Bukankah cintaMu kepada kami lebih besar dari pada cinta kita untuk-Mu?
Rabbi…
Maafkan kami
[Regards]

El_Funny
0400808 =>02:45

Kenapa harus protes dengan sebuah takdir???

Seringkali aku mendengar sebuah statemen, “manusia tidak bisa hanya mengandalkan skenario takdir tuhan, tanpa melakukan apa-apa”. Sebagai interpretasi aplikatif dari ayat “Innallaha la yughayyiru ma bi qaumin hatta yughayyiru ma bi anfusihim”.

Yah, bahkan itulah yang sering aku lakukan, dulu. Aku tidak memungkiri Allah Swt tidak akan memberikan sesuatu secara cuma-cuma kepada kami, para makhluknya. Kecuali makhluk-makhluk terpilihnya, dan tentu saja atas kehendak-Nya. Toh Dia berhak melakukan apapun.

Namun, sedikit yang buatku kecewa. Seringkali ayat itu di jadikan sebagai dalih legalisasi perbuatan manusia, dan tidak menutup kemungkinan termasuk aku di dalamnya. Perbuatan yang sebenarnya bukan termasuk dalam kemasan “hatta yughayyiru ma bi anfusihim”. Rangkaian cerita yang di rancang oleh makhluk Tuhan yang bernama nafsu, yang selalu mengikuti kemana manusia melangkah kerap menelusup di sela-sela perbuatan ”úsaha” versi manusia.

Secara umum, yang termasuk kedalam kategori takdir yang tidak bisa di rubah adalah yang berkaitan dengan rezeki, jodoh dan kematian. Kematian, mungkin tidak akan ada orang yang akan menyangkal, bahwa kematian itu rahasia Ilahi. Tidak akan ada yang mencoba beralasan atau sekedar menawarkan usaha untuk mempercepat atau memperlambatnya. Ya, kematian adalah kematian.

Berbeda dengan rezeki. Meski semua meyakini bahwa rezeki sudah di atur oleh-nya. Alokasi rezeki yang di tetapkan Tuhan sudah tercatat di lauh al-makhfudz. Namun ayat di atas tetap saja masih di posisikan di barisan pertama pintu ijtihad manusia. Semua harus ada usaha. Toh, tidak mungkin kan kita mendapat uang secara langsung (jatuh dari langit misalkan) dari Allah Swt. Okelah, mungkin usaha versi manusia kali ini bisa di terima. Meski pada akhirnya, ketika manusia sudah pada tahap putus asa dan pasrah, lagi-lagi semua akan bermuara pada takdir.

Lalu bagaimana dengan jodoh?

Sejatinya, akupun selalu bingung. Sebenarnya “usaha” yang bagaimana yang di inginkan Tuhan dari makhluk-Nya yang bernama manusia?!!.

Mungkin kekuatan, “jodoh adalah takdir” lebih kuat mengetengahkan kuasa Tuhan di banding “rezeki sudah ada yang mengatur”.
Jika ada yang mengatakan bahwa kita harus berusaha untuk bisa mendapatkan rezeki dari Allah Swt, sebab Dia begitu menyukai sebuah proses yang dilakukan oleh hamba-Nya. Aku begitu setuju, bahkan sangat setuju!!!.

Hanya saja aku selalu bingung saat orang mengatakan. Jodoh itu sudah di tetapkan oleh Allah Swt, namun selalu masih di akhiri dengan “Tapi kita juga harus berusaha”.

Selalu membuat jidatku mengkerut tiap kali mendengarnya. Sejujurnya, aku tak habis pikir, usaha yang bagaimana yang di maksud???
Okelah, katakan saja “iya” misalnya.

Lalu sekali lagi, apa bentuk usaha itu???
Pacaran kah?Selalu berusaha berpenampilan menarik kah?masuk pada banyak komunitas kah?melakukan proses pancarian dengan dua alat; mata dan nafsu kah?atau pasang iklan?Wew…

Aku sendiri tak tahu jawabnya yang mana.
Yang pasti aku selalu bingung.

Sampai saat ini yang menurutku masih sangat logis dan bisa di pertanggung jawabkan adalah, jika kita berusaha ingin mendapatkan jodoh yang baik, hanya “perbaiki diri” saja dulu. Bukankah Allah pun telah berjanji kepada kita, manusia. Siapapun yang baik akan mendapatkan pasangan yang baik pula. Berkaca pada diri sendiri, jika ingin tau jodoh kita seperti apa dan bagaimana.

Ada seorang teman mengatakan padaku. “Jika saat ini aku sedang bersenang-senang dengan lawan jenisku di luar, tidak menutup kemungkinan jodohku kelak, juga sedang melakukan hal yang sama dengan lawan jenisnya sekarang. Atau sebaliknya, mungkin saja jika saat ini aku sedang serius belajar dan bercinta dengan-Nya, maka tidak menutup kemungkinan saat ini juga jodohku pun melakukannya“.

Yap, kalimat-kalimat itu begitu lekat di otakku. Terimakasih sahabatku.

Entahlah, bagaimana seharusnya…
Aku juga tak tahu…

Yang pasti, “usaha” versi Tuhan sulit untuk di deskripsikan. Manusia hanya bisa meraba. Seringkali sebuah kebenaran yang di yakini manusia adalah kesalahan bagi Tuhan.

Hanya yakini, SEMUA DARI ALLAH
Tak perlu protes dengan takdir-Nya

Kau tak akan puas jika Allah memberikan apapun yang kau minta. Yakinilah, semua yang ada padamu, adalah pemberian tuhan atas butuhmu. Yah, karena Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita minta.[regards]

El_Funny
Kairo, 240808
15:08

13:40

Terjebak dengan skala prioritas

Mengapa aku semakin bingung dengan sebuah skala priotitas?
Aku sering terjebak dengannya.

Hari ini, ada beberapa hal yang masuk dalam skala prioritas kegiatanku. Masing-masing berprosentase sama.
Pertama, Sebenarnya, pagi ini aku dan kawan serumah ada majmuáh (pengajian tasawuf bersama Usz. Rahimuddin al-Nawawi). Pengajian wajib seminggu sekali khusus anak baru. Belum temasuk majmuah wajib lainnya (hari Rabu misalkan). Karena teman-teman pada nggak bisa, dengan sangat tepaksa, pengajian itu di tunda sampai hari Senin besok. Dan mau nggak mau, kegiatan untuk besok harus di cut semuanya.

Kedua, siang ini ada dua acara yang yang harusnya aku ikuti. Dua-duanya, tak ada yang bisa lebih di prioritaskan. FORDIAN dan WORD SMART. Satu LPJ dan satu lagi sekolah wajib seminggu sekali. Ah, capek deh!
Di satu sisi, dua hari lagi pengurus WIHDAH ada LKS (Laporan Kerja Semester) kepada DPA. Dan tentu saja aku termasuk di dalamnya, ya bendahara. BINGUNG…laporan banyak yang belum masuk. Sedangkan kemungkinan aku hanya mempunyai sisa waktu satu kali dua puluh empat jam untuk menyelesaikannya. Padahal aku harus bertemu beberapa bagian untuk memeriksa validitas data yang ku terima. Lalu aku harus bagaimana?. Dan di sisi yang lain juga, aku sedang kurang enak badan!.

Ketiga, aku putuskan, AKU TINGGALKAN SEMUA hari ini. Kebetulan nanti sore ada pengajian yang selalu di adakan menjelang majlis dzikir, setiap hari ahad dan kamis sore. Dua kali aku tinggalkan karena aku mengikuti program word smart, yang harus ontime dan tidak boleh bolos. Akhirnya, dengan sangat terpaksa aku mengikuti madzhab Bodoh amat!!!. Kali ini aku putuskan untuk tetap di rumah, mencoba menyelesaikan laporanku dan ikut pengajian dengan ustadz, jadid hayatak karya Muhammad al-Ghazaly.

Mohon maaf untuk FORDIAN, aku tidak bisa ikut LPJ dan diskusi terakhir sebelum pergantian pengurus hari ini. Aku juga tidak bisa membantu banyak, bahkan akupun tidak bisa menjamin untuk terus ikut aktif bersama para senior seperti kalian. Dan Word Smart, maafkan aku juga. Berat untuk tidak mengikuti satu pertemuanmu. Tapi aku tak bisa apa-apa, banyak prioritas yang kali ini menagih jatah mereka.

Yah, aku sering terjebak dengan prioritasku sendiri. Padahal disana ada prioritas dari prioritasku sendiri yang belum terealisir.

Apa itu??
Biarkan aku dan Dia yang tahu.

Kairo, 24/8/2008