"BISA KARENA BIASA"
CERDAS VS RAJIN
Dulu aku lebih suka orang yang cerdas dari pada orang yang rajin. Karena menurutku kecerdasan adalah modal utama dan pertama untuk sebuah kesuksesan, apapun bentuknya.
Tapi tidak untuk sekarang. Kalau di suruh milih, aku akan lebih memilih orang yang rajin tapi kecerdasan biasa-biasa aja. Dari pada orang cerdas yang nggak mau belajar dan hanya mengandalkan kecerdasannya dalam meraih suksesnya.
Humm…kalau orang cerdas juga rajin???
Ya élah…itu mah bukan pilihan. Semua orang ya maunya kayak gitu.
Mau bisa nyanyi, ya biasain nyanyi. Mau bisa masak, ya yang sering-sering masak. Mau bisa memahami sesuatu secara mendalam, sering-sering aja ngulang tuh sesuatu. Insyaallah, bakalan BISA dapet apa yang kamu inginkan.
Jadi inget kata ustadzku…”Saya pernah membaca buku ini (Dengan menunjukkan buku yang di maksud) kurang lebih tujuh belas kali, dan tujuh belas kali juga saya mendapatkan ilmu/ pemahaman baru dari buku ini”.
Hah????…tujuh belas kali???
Perasaan, aku kalau baca buku, tiga kaliiii aja, rasanya dah mual-mual. Lah ini, tujuh belas kali. Tiga puluh kali malahan, beliau pernah baca buku dengan judul yang berbeda.
Ilmu baru di setiap baca???
Is that right??
Hmm…Statement itu ternyata benar. Contoh kecil, baca muqarar tentunya nggak bisa sekali atau dua kali jika memang ingin benar-benar daqiq. Ilmu dan pemahaman baru pasti akan selalu muncul berkali-kali sebanyak kali kita membacanya. Karena di setiap sesuatu yang kita baca, makna yang tersirat lebih banyak dari yang tersurat.
Pernah juga loh aku lihat satu film yang aku ulangi sampe lebih dari lima kali. Nah, subhanallah…percaya atau nggak, setiap kali aku lihat dan muraja’ah (hue3x) tuh film, sebanyak itu pula aku dapet pemahaman baru dari jalan cerita itu (karena kebetulan tuh film emang nggak mudah di tebak, jadi nasyat deh nontonnya). Dari sini aku jadi inget dan langsung angguk kepala sama statemen ustadzku.
Atau ketika kita baca al-Qurán, kalam-Nya yang menyimpan makna yang begitu luas dan tanpa batas. Setiap kali baca, insyaallah akan ada aja makna yang muncul, yang membuat hati sedikit demi sedikit bergeser kembali ke tempat asalnya, Di tengah, tempat God spot itu ada.
Yah…Bisa memang karena biasa!!!
Benar yah kata Rasulullah…”Khairul umur adwamuha wa in qalla” . atau “Qul amantu billahi tsumastaqim”. Yah…intinya sih istiqamah getoh!!!
Nggak apa-apa kok sedikit demi sedikit. Yang penting istiqamah. Nanti juga bakal menjadi bukit.
Kalau otodidak??
Yuhuiii…it’s up to the man. Yang pasti, insyaallah aku bukan pengikut madzhab otodidak, kecuali terpaksa, ha3x. Sama aja ya???.
Nah…satu pelajaran lagi dari rajin.
Yaitu, menghargai sebuah proses. Menurut hasil surveyku dari beberapa temenku yang dah dapet stempel rajin dari aku (he3x). Setiap kali aku tanya kenapa mereka nggak bosen-bosennya belajar kesana-kemari, talaqqy, baca buku, ng’hafalin qurán, atau ikutan diskusi-diskusi ilmiah. Banyak yang bilang, “karena saya belum bisa apa-apa”.
Subhanallah, padi semakin berisi semakin merunduk memang. Aku heran, padahal mereka jauh di atasku dalam hal keilmuan. Mereka sudah jauh berlari, aku masih baru mencoba untuk berdiri. Iseng ku bilang sama salah satu dari mereka, “kan anti udah pinter dan udah pernah mempelajari madah ini, ngapain belajar lagi?”.
“ya, kan saya pengen tahu lebih dalam lagi tentang madah ini ukhti. Selain itu mungkin cuma ini yang bisa saya lakukan sebagai bentuk rasa syukur saya atas karunia-Nya, menganugerahkan kesempatan emas untuk menuntu ilmu disini”, sambil tersenyum manis. Senyuman yang berhasil membuatku tak bisa berkutik lagi karena tertohok, hihihi.
Tapi yang aku sering heran.
Kebanyakan orang masih memandang:
* Orang yang nggak rajin / belajar, trus hasil yang di capai maksimal => Cerdas.
Yups…aku setuju dengan statemen itu. Itu berarti Allah memberikan satu kelebihan pada dia.
Tapi…
* Orang yang rajin terus hasil yang di capai juga maksimal => Owh, itu karena dia rajin.
Gitu deh jawabnya…
Awalnya sih, aku masih sempat nerima aja tuh statemen.
Aku yakin, dalam benak banyak orang Cerdas dan Rajin itu berbeda. Dan kebanyakan orang akan merasa lebih bangga di katakan cerdas dari pada rajin.
Tapi setelah aku lihat lagi. Tidak semua orang rajin yang mendapat hasil yang memuaskan, itu hanya di sebabkan oleh kerajinannya aja. Faktor kecerdasannya pun mempunya porsi cukup besar.
So…aku menyimpulkan, orang rajin bukan berarti tidak lebih cerdas dari orang cerdas!. Karena aku melihat beberapa teman dekatku memang seperti itu. Dan itulah hamba yang baik, menurutku.
Whatever…sekali lagi itu hanya sebuah pandangan.
Jika ada sepuluh kepala, maka bisa jadi muncul sepuluh pandangan yang berbeda juga. Dan semuanya relatif, jika barometernya adalah akal manusia.
Hmm…
that’s all…
DH PALACE
30 Juli 2009
12.47
El-Funny
CERDAS vs RAJIN
Posted by Mara el_Funny at 4:50 AM 16 comments
Semangat itu di cari, bukan di tunggu!
Hal yang paling menyebalkan dalam belajar adalah, kehilangan semangat.
Salah satu sumber kekuatan terbesar dan modal terbesar dari sebuah kesuksesan. Namun pertanyaannya, bagaimana kita bisa membuat diri kita senantiasa bersemangat dalam melakukan semua aktivitas kita?
Semangat seakan menjadi sang primadona hari-hari ini, terlebih lagi bagi para mahasiswa/pelajar Kairo yang sedang menghadapi ujian. Sebab, dalam event seperti ini, mereka kerap di landa penyakit mematikan, Malas.
Ah, termasuk aku tentunya.
Tak jarang aku mengeluh di tengah laju perjalanan belajarku yang, yah…begitu-begitu saja, mungkin. Kehilangan semangat yang berakibat berkurangnya etos belajarku. Menyebalkan bukan?!
Hal pertama yang terpikir olehku adalah; bagaimana aku bisa menemuka kembali makhluk yang bernama semangat. Makhluk licin yang jika kita tidak kuat memegangnya, maka dia akan lari dengan begitu saja.
Lalu, bagaimana aku harus mencarinya?
Kalau aku pribadi sih, aku harus mencari titik kelemahanku sendiri terlebih dahulu. Kalau dalam hal belajar, aku adalah salah satu tipe orang yang lebih suka belajar secara bersama-sama. Tidak sendirian.
Bisa aja sih belajar sendirian, tapi hampir bisa di pastikan hasil yang akan di capai tidak akan semaksimal jika aku belajar dengan orang lain.
Aku lebih suka sharing ide dengan yang lain. Belajar bersama, dan memahami madah bersama-sama. Menyamakan pemahaman hasil baca sendiri yang kita bawa sebelumnya, juga tukar pikiran jika memang ada perbedaan. Yang jelas, aku bisa take n give dengan pasangan belajarku.
Walhasil, setiap kali aku ngerasa bored banget belajar di rumah, langsung aja aku meluncur ke rumah temenku di daerah hay-sabiek. Dan setiap kali aku kesana, seakan-akan semangat itu kembali ada. Seperti handphone yang baru saja di charg…masih anget uey! .
Yuhuiiii…SEMANGAT lagi deh.
Dari sini aku menyimpulkan…SEMANGAT ITU MEMANG HARUS DI CARI.
Regards
16.48
28 Juli 2009
Posted by Mara el_Funny at 4:45 AM 0 comments
Setapak perjalanan
Setapak perjalanan
Pelik...
Terjal...
Tinggi...
Bagaimana aku harus menggambarkannya
Semua semakin tidak berarti
Lebih baik memang kembali
Tak perlu mengerti yang terjadi
Hanya biarkan sang diri menjadi diri
Melepuh dan terkoyak dengan yang berhak
Sebenarnya semuanya begitu indah
sebenarnya semuanya begitu mudah
Sebenarnya semuanya begitu terbuka
Hanya saat kau sadari bahwa semuanya adalah FANA
hanya Dia yang ADA
[regards]
----------
* Saat perjalanan itu semakin membuatku tak mengerti akan diriku
Hanya ada satu yang bisa membantuku...Dia (Rabb; Sang Kekasih sejati)
Posted by Mara el_Funny at 10:26 AM 0 comments
Lagi-lagi menyebalkan
11.30
sekarang aku lagi ngantri di salah satu tempat yang paling menyebalkan d Cairo ini:
*JAWAZAT*,selain su'un thulab-tempat ngantri buku & tashdiq-tentunya.
Ah,tapi ya sudahlah. Sepertinya KESABARAN memang harus menjadi sahabat terbaikku kini.Di negeri orang,emang bisa ngapain? Selain mengeluh,nggerundel,teriak-teriak,yang atsarnya ada ato nggak aja ga bisa di pastikan:(
tapi sekali lagi...Ya sudahlah.
Bismillah aja,pastinya HIKMAH sedang menunggu di blik sana,ya ga?:)
Hmm...Tapi lumayanlah, aku masih bisa ng'blog untuk sekedar mengurangi rasa penat yang memang kelihatan enggan untuk menghilang. Baru habis beberapa lembar muqoror, otak serasa nggak loading lagi:(
fiuhh, whatever...Its life;)
Oh iya,kok aku jadi inget obrolanku bareng temen serumahku, semalem ya!
Beberapa saat setelah acara oel-tah sederhana si Najdah,adek kelasku.
Topik sederhana tentang satu hal yang kita rasakan selama ini.
*KEBERSAMAAN*
Di rumah, aku merasa kebersamaan itu begitu terasa. Bukan lagi sebagai teman yang solid. Lebih dari itu, aku merasa kita ber-7 adalah saudara.
Bertujuh dalam satu bangunan yang bernama rumah. Bernuansa ungu dengan dua kamar,satu ruang tamu yang cukup luas untuk ukuran mahasiswa, satu kamar mandi dan satu dapur. "hah? Tujuh orang cuma dua kamar?", respon yang sering kudapat saat ceritaku sampa di telinga mereka. "ga sumpek tuh mit?", komentar susulan yang kerap mereka lontarkan. Dan satu jawabanku...Senyum:)
Memang sih, di banding beberapa rumah yang pernah aku singgahi sebagai taman untukku berteduh di bumi kinanah ini, rumah ini menempati posisi pertama sebagai rumah t'sumpek:D. Rumah dengan personil terbanyak dan jumlah kamar tersedikit. I thougt it would be hard to me, at that time:(.
But the real isn't like that
to be continue
(Mood nulisnya dah habis, nunggu petugas jawazat kelamaan)
Posted by Mara el_Funny at 1:54 AM 1 comments
Uffh...Tau nggak pa yg terjadi ma aku sekarang??
Hmm...Do you know that i'm so BORED now!!
Lagi nungguin tashdiq euy...HUAHUAHUA...Nyebelin.
Jadi ga mood mau masuk mukhadharah ketiga {hayyah..Bilang ja emang males dari awal:P}
Setor data jam 9,ngambilnya jam 1,pake acara molor lagi si Ablah,wekz
Mesir..Mesir:(
capek deh!!
Posted by Mara el_Funny at 3:02 AM 0 comments
Semburat wajah kekasih
Semburat wajah sang kekasih
Ada, meski tak nampak
Indahnya terasa, meski samar
Sejuknya merajukku, dan aku pun teráyu oleh-Nya
Sentuhan-Nya melumpuhkanku
Lidahku kelu saat mengucap asma-Nya
Aku tebujur kaku oleh cinta-Nya
Yang selalu ingin ku raih
Namun kenapa penghalang itu begitu besar
Aku tahu engkau juga mencintaiku
Bahkan cinta-Mu lebih besar dari cintaku
Namun kau juga mengirimkan banyak hal
Yang sering membuatku telupa oleh-Mu
Kenapa kekasihku?
Terlalu naifkah jika hal itu ku pertanyakan?
Maaf kekasihku
Maaf…
Aku begini karena aku dhaif
Masih saja ku biarkan selain-Mu mengisi ruang ini
Ruang, yang seharusnya adalah milik-Mu
Hanya milik-Mu
Dan sayang sekali
Seringkali lakuku mengamininya
Ah dasar nafsu
Selalu saja ikut campur dalam urusan percintaanku
Dia membuat cintaku tak sebening milik-Nya
Posted by Mara el_Funny at 10:43 AM 0 comments
Kesempurnaan tak berarti
Apa arti sebuah kesempurnaan?
Aku ingin dia tak berarti apa-apa
Aku ingin dia tak berarti bagi siapa saja
Aku ingin dia tak berprestise
Bosan dengan kata sempurna itu
Siapa saja menginginkannya
Dan selalu berusaha menjadinya
Namun semua seakan kotor
Sempurna penuh tendensi
Sempurna tak sepenuh hati
Sempurna tak benar-benar sempurna
Sempurna tanpa arti
Lalu, bukankah lebih baik sempurna itu tak berarti???
Bukankah saat merasa kurang, itulah sempurna
Saat merasa tak sempurna, itulah sempurna
Ah, bosan!
El_Funny
Kairo 210808
10:25
Posted by Mara el_Funny at 10:42 AM 3 comments
Baik bukan berarti "yang terbaik"
Baik bukan berarti “yang terbaik”
14.56
Dimana-mana, orang selalu berusaha mencari sesuatu yang baik, lalu menganggap semua itu lah yang terbaik baginya.
Berusaha mencari, mengejar dan memiliki “baik”itu. Kekurangan menjadi satu hal yang terdiskreditkan. Sama sekali tidak terakui eksistensinya. Atau kalaupun ada, hampir tak ada yang bersedia menyentuhnya. Yah, itulah manusia, makhluk Tuhan yang berpotensi menjadi makhluk yang paling serakah di antara yang lainnnya.
Hanya saja logika manusia sering terkalahkan dengan suara nafsu yang mengaku sebagai naluri. Semua selalu ada legalisasi, kompromi yang tak kenal etika.
Tentu saja, tak bisa di pungkiri, sebuah kesempurnaan memang menjadi satu hal yang idam-idamkan manusia. Entah dari dirinya sendiri ataupun orang lain. Menjadi sempurna untuk mendapatkan kesempurnaan. Sekilas, memang indah. Namun apakah kesempurnaan itulah yang terbaik baginya? Wallahua’lam.
Mencibir kekurangan tanpa pikir panjang. Tidak mencoba mencari sesuatu di baliknya. Tidak mencoba memahami apa yang di simpannya. Toh, kekurangan tak selamanya menjadi dirinya. Ah, seandainya semua orang memahaminya, termasuk aku.
Baik sendiri itu olahan subjektifitas manusia. Yang natijahnya pun akan selalu menjadi relatif, meski tidak menutup kemungkinan barometer umum itu akan terbangun dengan adanya suara mayoritas. Baik menurut satu orang, belum tentu baik menurut yang lain, terlebih lagi menurut-Nya. Aku sendiri belum menemukan mizan yang pas untuk menentukannya.
Tapi memang benar, manusia memang harus selalu mencoba untuk melakukan yang terbaik bagi apa dan siapa saja. Perintah Tuhan juga bukan?!
Lalu bagaimana dengan sesuatu yang akan di dapatkan?
Apakah harus mencoba mendapat yang baik juga?
Yaps, betul. Manusia pun harus selalu mencoba untuk mendapatkan yang baik. Hanya saja, sang muara bukanlah itu, tetapi "yang terbaik". Karena sesuatu yang baik (menurut kita-manusia-) belum tentu yang terbaik. Baik dan terbaik it berbeda. Persamaannya hanyalah, keduanya sama-sama di inginkan oleh manusia.[regards]
DH Palace, 11 Nov 2008
By: El_Funny
Posted by Mara el_Funny at 9:27 AM 1 comments
Seandainya aku seorang Khadijah...
Begitu indahY menjadi sosok wanita ideal, pendamping manusia tersempurna
Seandainya aku seorang Aisyah ra
begitu bahagianya menjadi wanita cerdas dan begitu di puja oleh hamba tercinta-Nya
kenapa selalu banyak "seandainya" yah?
Tapi aku tetap bersyukur, karena aku adalah milik-Nya
[regards]
Posted by Mara el_Funny at 12:19 PM 0 comments
Ilusi di atas Ilusi
Bagaimana aku bisa tidak menyadari "siapa aku?"
Bahkan aku masih sempat mengatakan "aku adalah aku"
Dengan penuh kepercayaan diri, aku bilang "aku ada"
Dengan satu jiwa sombong berdalih "aku bisa"
Perbuatanku mengatakan "Aku sedang melakukannya"
Aku
Aku
dan Aku...
Aku adalah Ilusi
Aku hidup di atas Ilusi
Saat aku mengatakan aku ada
Itulah sebuah Ilusi di atas ilusi
Yah, semua memang ilusi
Hanya Dia-lah yang Hakiki
Rabbi maafkan kami
Para Ilusi
yang sering tak menyadari siapa-lah kami
Terlebih lagi
"Aku"
[Regards]
Posted by Mara el_Funny at 6:52 AM 0 comments
IDUL FITRI
To: The readers of my blog
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
Mohoh maaf lahir dan batin
Semua orang mengatakan hari ini, adalah hari kemenangan
So, aku berdoa, semoga kita semua memang benar-benar menjadi salah satu pemenang itu
Semua orang mengatakan hari ini, adalah hari kita menjadi suci kembali
So, aku berdoa, semoga kita semua memang benar-benar menjadi sesuci yang kita inginkan
Semua orang mengatakan, hari ini adalah hari besar umat-Nya
So, aku berdoa, semoga kita benar-benar menjadi "besar" untuk-Nya
Sekedar mempelajari apa yang bisa membuat-Nya mencintai kita:).
regards
Posted by Mara el_Funny at 9:53 AM 0 comments
Fiuuuhhh…ada aja!!!
Yah…sekarang tepat pukul 00:10 WK. Itu artinya, sepuluh menit yang lalu, aku telah memasuki hari yang baru. Btw…sekarang hari apa yah???
Wew…hu uh2, Yaps Senin.
Hari ini (kemarin maksudnya -sepuluh menit yang lalu-:D), bisa di bilang hari yang cukup melelahkan. Seharian jadi manusia jalanan, wekeke. Tapi insyaallah di jalan Allah kok (Ya iyalah, masak ya iya dunk).
Hmm…tapi bener-bener kehidupan yang indah…
Jam 08.00 aku harus segera prepare buat ngikut majmuáh* anak-anak baru. Yah, meski aku tidak bisa di bilang anak baru (Dah hampir tingkat akhir boo’:D), tapi aku termasuk pendatang baru di dunia ini (tasawuf-red). Hemm…pagi sekali untuk ukuran Kairo, yang notabene punya sirkulasi kehidupan yang terbalik. Kalo Peterpan yang nyanyi sih nggak pake kata sirkulasi terbalik. Langsung aja “kaki di kepala, kepala di kaki”, hue3x.
Agenda yang di rencanakan berikutnya, ikutan TALK SHOW-nya Word Smart Center plus technical meeting buat pelatihan 2 bulan kedepan. Jam 11:00 tepat!!!, gitu sih kata panitianya:D. But…bukan maksud melestarikan tradisi memalukan manusia Indonesia yang doyan ngaret sih, hanya saja pagi tadi aku benar-benar harus telat 2 jam dari jadwal semula. Humm…gimana nggak?!. Ngaji paginya belom kelar-kelar. Prediksi awal sih selesai sekitar jam 12:00 (GPP lah, telat sejam ke KPMJBnya), but…karena keasyikan dengerin mukhadarah sang Ustadz el-karim, jadi nggak rela juga ninggalin tuh majmuáh. Yah…maksud hati sih, biar seimbang, bisa dapet semua tanpa ada yang di korbanin.
Dan yaps…I couldn’t do anything. Just waiting for a permission!!!
Akhirnya, pukul 13:00 WK baru bisa nongol di pasanggrahan KPMJB. Hohoho…meski sedikit malu n nggak enak, nekat saja aku masuk (Ya iyalah, masak mau jaga di luar, weks).
Konklusi awal…
I was meeting => 3 presentator yang subhanallah…
Hem…nothing to say, just I like them!!!
Alhamdulillah…selesai juga akhirnya.
Pulang ke rumah sekitar jam setengah 6 sore. it’s the time for preparing “majelis dzikir” ba‘da maghrib. Ups…ternyata aku lupa, sebelum maghrib masih ada ngaji bersama Sang Ustadz tercinta. Humm…untungnya ngajinya nggak terlalu berat. Just about life, n I like it. Jadid hayatak milik Muhammad al-Ghozali pun jadi santapan kita.
GUBRAKK…sepertinya mataku dah nggak bisa di ajak kompromi deh. Ba’da maghrib rasanya dah pengen KO aja. Ngelihat bantal plus guling (nggak pake selimut, musim panas euy), jadi pengen tidur aja. Padahal majelis dzikir baru aja mau di mulai, hiks.
But…Nggak bisa!!!. Keenakan para setan dunk kalo ku turutin, ha3x. Ogah ah nemenin mereka. Mending masuk hamam, cuci muka plus tajdid al-Niyyah. Humm…YES, dunia kembali bersahabat denganku. Semangat itu masih tersisa rupanya.
Alhamdulillah…jam 23:30 kegiatanku berakhir.
Intermezo sebelum tidur => Curhat di Catatan harianku.
Dan…saatnya tiduuur…
Semoga Allah masih mengizinkanku melakukan sesuatu untuk-Nya esok hari.
Amin…
Regards
El_Funny
4 Agustus 2008
01:05
Posted by Mara el_Funny at 3:49 AM 0 comments
Terlalu sulit mendeteksi “Lillah” itu…
Ah…apa itu Lillahita’ala???
Karena Allah?
Hanya untuk Allah?
Hemm…mungkin saja seperti itu.
Bukan hal yang sulit untuk mengatakan, “aku melakukan semua ini lillahita’ala”, “aku beribadah lillahita’ala”, “aku beramal lillahita’ala”, bahkan “aku mencintaimu lillah”. Ah…bagiku terlalu mudah untuk sekedar mengeluarkan kata-kata itu dari mulut manusia.
Seandainya kata-kata itu bisa di jual. Mungkin saja akan ada berjuta-juta orang yang akan membelinya. Tidak menutup kemungkinan para manusia itu akan menumpuknya sebagai stok untuk di jadikan simbol dalam mengiringi segala tingkah lakunya.
Aku tidak yakin “lillah” itu banyak termiliki oleh makhluk yang bernama manusia. Terlalu banyak hal dalam sesuatu. “Lillah” dan “tendensi” itu berbanding begitu tipis. Banyak orang yang mengecoh dan terkecoh dengannya. Yah, sekali lagi hanya simbol. Dan itu semua bullshit!.
Teramat sulit melakukan sesuatu hanya untuk-Nya. SANGAT!!!
Banyak tedensi yang berdiri tegak dengan kemilauan cahaya fananya. Dan sayangnya, sering kita terlelap dengannya, tak sadar!
Hanya kalangan elitis (di hadapan-Nya) lah yang mampu melakukannya. Dan sekali lagi, sangat sulit terdeteksi. Orang-orang tertentu, pilihan, dan hamba ideal yang di inginkan-Nya lah yang mungkin bisa sampai pada tahap itu.
Barometer “Lillah”, bukanlah ikhlas dhohiri yang hanya terlacak via asumsi mata yang melihatnya. Tidak menutup kemungkinan memang, namun ibarat data, validitasnya perlu di pertanyakan. Bukankah don’t judge anything by the cover?. kecantikan cover bisa di rekayasa oleh layouternya. Dan mungkin itulah yang sering kita lakukan dalam lelap kita. Tanpa ada khudlur dengannya, namun sebaliknya, dalam kondisi yang futhur.
Lillah, perlu dzauq. Lillah perlu ikhlas internal. Lillah perlu khudur. Lillah tak kenal tendensi, obsesi apalagi ambisi. Lillah hanya bisa di ketahui oleh dua pihak, dia dan Dia.
Mungkin saja dalam lelapku aku mengatakan, “Aku ingin bershadaqah lillah”. Yap, mungkin saja seorang aku benar-benar lillah. Tapi, tidak menutup kemungkinan seorang aku sedang lupa begitu saja dengan konsekuensi yang di harapkan oleh nuraniku. Dengan mencoba untuk tidak menyadari bahwa aku memang menginginkan sebuah pujian. Atau mungkin saja balasan dari manusia yang lain. Atau bahkan demi sebuah nama baik. Atau bahkan surga. Hmm…lalu itukah lillah?
Atau bahkan saat seseorang mengatakan “Aku mencintaimu lillah”. apa itu?
Yakin cinta itu lillah?…sebentar, tak perlu sebuah jawaban sepertinya. Untuk satu statemen ini, agaknya perlu seribu pertanyaan untuk mengambil sebuah kesimpulan.
Lalu atas dasar apa seseorang mencintai?
Menginginkan?
Ambisi?
Kepentingan?
Nafsu?
Prestise?
Atau apa?
Bahkan dengan seorang teman. Misalnya saja, seorang aku mencintai seorang sahabat. Bukan hal yang sulit untuk mengatakan semua itu hanya untuk-Nya. Hanya saja, terkadang seorang aku lupa atas sebuah kepentingan. Mungkin aku menyukainya karena dia pandai, ramah dan baik bagi seorang aku. Dengan sahabat itu, dia bisa melakukan apa yang dia inginkan. Sahabat itu mampu mendukung seorang aku untuk mencapai idealismenya. Atau bahkan seorang aku hanya merasa lebih nyaman bersamanya. Tidak ingatkah bahwa semua itu masih berbalut warna putihnya sebuah kepentingan?
Ah…lalu itukah lillah?
Aku tak ingin menodai kata itu. Lillah adalah lillah.
Tak ada kata yang patut untuk mendeskripsikannya. Terlalu suci dan sakral.
Lillah tak mengenal hijab antara dia dan Dia.
Tak ada tendensi apapun…
Yah hanya Lillah
Dan itu sangat SULIT!!!
Wallahua’lam
Akupun tak tahu bagaimana cara melakukannya
Rabbi, tunjuki kami
Hanya jangan keluarkan kami dari koridormu
Bantu kami mencintai-Mu
Bukankah cintaMu kepada kami lebih besar dari pada cinta kita untuk-Mu?
Rabbi…
Maafkan kami
[Regards]
El_Funny
0400808 =>02:45
Posted by Mara el_Funny at 3:46 AM 0 comments
Kenapa harus protes dengan sebuah takdir???
Seringkali aku mendengar sebuah statemen, “manusia tidak bisa hanya mengandalkan skenario takdir tuhan, tanpa melakukan apa-apa”. Sebagai interpretasi aplikatif dari ayat “Innallaha la yughayyiru ma bi qaumin hatta yughayyiru ma bi anfusihim”.
Yah, bahkan itulah yang sering aku lakukan, dulu. Aku tidak memungkiri Allah Swt tidak akan memberikan sesuatu secara cuma-cuma kepada kami, para makhluknya. Kecuali makhluk-makhluk terpilihnya, dan tentu saja atas kehendak-Nya. Toh Dia berhak melakukan apapun.
Namun, sedikit yang buatku kecewa. Seringkali ayat itu di jadikan sebagai dalih legalisasi perbuatan manusia, dan tidak menutup kemungkinan termasuk aku di dalamnya. Perbuatan yang sebenarnya bukan termasuk dalam kemasan “hatta yughayyiru ma bi anfusihim”. Rangkaian cerita yang di rancang oleh makhluk Tuhan yang bernama nafsu, yang selalu mengikuti kemana manusia melangkah kerap menelusup di sela-sela perbuatan ”úsaha” versi manusia.
Secara umum, yang termasuk kedalam kategori takdir yang tidak bisa di rubah adalah yang berkaitan dengan rezeki, jodoh dan kematian. Kematian, mungkin tidak akan ada orang yang akan menyangkal, bahwa kematian itu rahasia Ilahi. Tidak akan ada yang mencoba beralasan atau sekedar menawarkan usaha untuk mempercepat atau memperlambatnya. Ya, kematian adalah kematian.
Berbeda dengan rezeki. Meski semua meyakini bahwa rezeki sudah di atur oleh-nya. Alokasi rezeki yang di tetapkan Tuhan sudah tercatat di lauh al-makhfudz. Namun ayat di atas tetap saja masih di posisikan di barisan pertama pintu ijtihad manusia. Semua harus ada usaha. Toh, tidak mungkin kan kita mendapat uang secara langsung (jatuh dari langit misalkan) dari Allah Swt. Okelah, mungkin usaha versi manusia kali ini bisa di terima. Meski pada akhirnya, ketika manusia sudah pada tahap putus asa dan pasrah, lagi-lagi semua akan bermuara pada takdir.
Lalu bagaimana dengan jodoh?
Sejatinya, akupun selalu bingung. Sebenarnya “usaha” yang bagaimana yang di inginkan Tuhan dari makhluk-Nya yang bernama manusia?!!.
Mungkin kekuatan, “jodoh adalah takdir” lebih kuat mengetengahkan kuasa Tuhan di banding “rezeki sudah ada yang mengatur”.
Jika ada yang mengatakan bahwa kita harus berusaha untuk bisa mendapatkan rezeki dari Allah Swt, sebab Dia begitu menyukai sebuah proses yang dilakukan oleh hamba-Nya. Aku begitu setuju, bahkan sangat setuju!!!.
Hanya saja aku selalu bingung saat orang mengatakan. Jodoh itu sudah di tetapkan oleh Allah Swt, namun selalu masih di akhiri dengan “Tapi kita juga harus berusaha”.
Selalu membuat jidatku mengkerut tiap kali mendengarnya. Sejujurnya, aku tak habis pikir, usaha yang bagaimana yang di maksud???
Okelah, katakan saja “iya” misalnya.
Lalu sekali lagi, apa bentuk usaha itu???
Pacaran kah?Selalu berusaha berpenampilan menarik kah?masuk pada banyak komunitas kah?melakukan proses pancarian dengan dua alat; mata dan nafsu kah?atau pasang iklan?Wew…
Aku sendiri tak tahu jawabnya yang mana.
Yang pasti aku selalu bingung.
Sampai saat ini yang menurutku masih sangat logis dan bisa di pertanggung jawabkan adalah, jika kita berusaha ingin mendapatkan jodoh yang baik, hanya “perbaiki diri” saja dulu. Bukankah Allah pun telah berjanji kepada kita, manusia. Siapapun yang baik akan mendapatkan pasangan yang baik pula. Berkaca pada diri sendiri, jika ingin tau jodoh kita seperti apa dan bagaimana.
Ada seorang teman mengatakan padaku. “Jika saat ini aku sedang bersenang-senang dengan lawan jenisku di luar, tidak menutup kemungkinan jodohku kelak, juga sedang melakukan hal yang sama dengan lawan jenisnya sekarang. Atau sebaliknya, mungkin saja jika saat ini aku sedang serius belajar dan bercinta dengan-Nya, maka tidak menutup kemungkinan saat ini juga jodohku pun melakukannya“.
Yap, kalimat-kalimat itu begitu lekat di otakku. Terimakasih sahabatku.
Entahlah, bagaimana seharusnya…
Aku juga tak tahu…
Yang pasti, “usaha” versi Tuhan sulit untuk di deskripsikan. Manusia hanya bisa meraba. Seringkali sebuah kebenaran yang di yakini manusia adalah kesalahan bagi Tuhan.
Hanya yakini, SEMUA DARI ALLAH
Tak perlu protes dengan takdir-Nya
Kau tak akan puas jika Allah memberikan apapun yang kau minta. Yakinilah, semua yang ada padamu, adalah pemberian tuhan atas butuhmu. Yah, karena Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita minta.[regards]
El_Funny
Kairo, 240808
15:08
Posted by Mara el_Funny at 3:45 AM 0 comments
13:40
Terjebak dengan skala prioritas
Mengapa aku semakin bingung dengan sebuah skala priotitas?
Aku sering terjebak dengannya.
Hari ini, ada beberapa hal yang masuk dalam skala prioritas kegiatanku. Masing-masing berprosentase sama.
Pertama, Sebenarnya, pagi ini aku dan kawan serumah ada majmuáh (pengajian tasawuf bersama Usz. Rahimuddin al-Nawawi). Pengajian wajib seminggu sekali khusus anak baru. Belum temasuk majmuah wajib lainnya (hari Rabu misalkan). Karena teman-teman pada nggak bisa, dengan sangat tepaksa, pengajian itu di tunda sampai hari Senin besok. Dan mau nggak mau, kegiatan untuk besok harus di cut semuanya.
Kedua, siang ini ada dua acara yang yang harusnya aku ikuti. Dua-duanya, tak ada yang bisa lebih di prioritaskan. FORDIAN dan WORD SMART. Satu LPJ dan satu lagi sekolah wajib seminggu sekali. Ah, capek deh!
Di satu sisi, dua hari lagi pengurus WIHDAH ada LKS (Laporan Kerja Semester) kepada DPA. Dan tentu saja aku termasuk di dalamnya, ya bendahara. BINGUNG…laporan banyak yang belum masuk. Sedangkan kemungkinan aku hanya mempunyai sisa waktu satu kali dua puluh empat jam untuk menyelesaikannya. Padahal aku harus bertemu beberapa bagian untuk memeriksa validitas data yang ku terima. Lalu aku harus bagaimana?. Dan di sisi yang lain juga, aku sedang kurang enak badan!.
Ketiga, aku putuskan, AKU TINGGALKAN SEMUA hari ini. Kebetulan nanti sore ada pengajian yang selalu di adakan menjelang majlis dzikir, setiap hari ahad dan kamis sore. Dua kali aku tinggalkan karena aku mengikuti program word smart, yang harus ontime dan tidak boleh bolos. Akhirnya, dengan sangat terpaksa aku mengikuti madzhab Bodoh amat!!!. Kali ini aku putuskan untuk tetap di rumah, mencoba menyelesaikan laporanku dan ikut pengajian dengan ustadz, jadid hayatak karya Muhammad al-Ghazaly.
Mohon maaf untuk FORDIAN, aku tidak bisa ikut LPJ dan diskusi terakhir sebelum pergantian pengurus hari ini. Aku juga tidak bisa membantu banyak, bahkan akupun tidak bisa menjamin untuk terus ikut aktif bersama para senior seperti kalian. Dan Word Smart, maafkan aku juga. Berat untuk tidak mengikuti satu pertemuanmu. Tapi aku tak bisa apa-apa, banyak prioritas yang kali ini menagih jatah mereka.
Yah, aku sering terjebak dengan prioritasku sendiri. Padahal disana ada prioritas dari prioritasku sendiri yang belum terealisir.
Apa itu??
Biarkan aku dan Dia yang tahu.
Kairo, 24/8/2008
Posted by Mara el_Funny at 3:37 AM 0 comments
FLUKTUASIKU
Kemarin, 6 Agustus 2008. Natijah kelas 3 Tafsir turun.
Hmm…LEGA!!!
Alhamdulillah, akirnya masa penantian itu telah selesai. Benar-benar hari yang sangat menegangkan. Badan serasa tak bertulang ketika Najah, temen seperjuanganku, memberi tahuku kalau hari ini nilai turun.
LEMES…asli deh!!!
Selain capek, karena baru pulang dari rumah Ustadz. Aku juga sedang mempersiapkan mental, andai saja kemungkinan terburuk yang terjadi. Oh, no!!!. membayangkan saja, dunia seakan menjadi gelap, ha3x.
Rencana awal sih aku sendiri yang akan melihat dan mengambil natijah ke kuliah. Tapi aku juga khawatir bakal terlambat dan kertas nilai itu dah tersobek dan hilang. Aduh, harus gimana yah. But…untung channel-ku banyak, aku nitip saja sama salah satu sahabat terbaikku, si Neila.
Sebenarnya, sudah pernah kontrol seh sebelumnya. Hasil kontrol yang cukup menenangkan, meski ada sedikit harapan untuk ada kesalahan yang berujung kepada penambahan nilaiku, bukan sebaliknya. Tapi tentu saja, aku sudah akan sangat bersyukur sekali sengan ketetapan-Nya untukku. Aku selalu percaya, Dia menyimpan banyak hikmah untukku.
Dan akhirnya, Yaps…
“Mita, tenang aja ya, nilai kamu masih bagus kok”, suara di seberang sana sedang memberi tahuku.
Otakku berjalan cepat mencerna kata-katanya. “Masih bagus??”, batinku bertanya-tanya. Kata-kata ini sarat akan sebuah maksud “membuatku tenang”. Dan yah, benar dugaanku. Hasil kontrol itu tidak meleset.
Tahun ini aku mendapat predikat JJ. Ups…tapi bukan Jayyid Jiddan. JJ tahun ini berubah singkatan => Jayyid aJa, ha3x.
Yah, ternyata semua memang ada fluktuasi, termasuk natijahku. Tentunya aku sangat tak patut untuk tidak bersyukur, terlalu naif kalau harus ada penyesalan, terlalu tamak saat aku hanya mengeluh dan melupakan bahwa itu skenario-Nya. Natijahku kembali seperti natijah tahun pertamaku. Yah, Jayyid. Meski dengan psikologi yang berbeda. Tentu saja, saat itu aku menerima nilai Jayyid, dengan kondisiku yang belum pernah menerima natijah sebelumnya, dan target hanya sebuah kenajahan. Sedangkan tahun ini, posisi nilaiku, merosot. Setelah sebelumnya aku berpredikat Jayyid Jiddan, sebuah kewajaran bukan, saat kekecewaan itu sempat menghampiri memori otakku.
Tapi, itu hanya sebentar. Sejenak saja. Selanjutnya ribuan syukurku pun seakan tak cukup untuk mengungkapkan hadiah Tuhan untukku tahun ini. Sepertinya memang ada degradasi pada kelas 3 tafsir ini. Meski ada beberapa orang juga yang mengalami peningkatan, tapi aku menemukan banyak sekali yang mendapati nilai mereka menurun. Ada yang tadinya JJ menjadi single J, ada yang tadinya Jayyid menjadi manqul (bawa madah), dan lain-lain.
Tapi, tentu saja sekarang bukan saatnya membahas itu. Itulah fluktuasi, Allah sedang menguji dan mengingatkan kita. Ya, itulah bentuk kasih sayang-Nya untuk kita.
Khususnya aku…
Terimakasih ya Allah, atas kelulusanku tahun ini.
Terimakasih, engkau tidak sedang marah padaku bukan?. Aku bersyukur pada-Mu.
Aku tahu inilah yang aku butuhkan. Saat ini aku memang sedang membutuhkan Jayyid itu. Mungkin Allah tahu, mungkin saja jika aku tetap dengan predikat lama, semangatku tidak akan bangkit lagi. Mungkin saja aku akan sangat meremehkan apapun, kuliah misalnya. Allah tahu, mungkin saja jika aku tetap ber-JJ, aku tidak akan berusaha maksimal untuk berusaha khusnul khotimah di akhir perjalanan S1 ku disini. Dan Allah pun menyadarkanku, apa arti sebuah proses.
Proses belajarku tahun ini memang kacau. Hampir tidak pernah kuliah, belajar tidak semaksimal tahun sebelumnya. Ya, itulah aku. Dan pantas bukan saat Allah mengingatkanku tahun ini. Maafkan aku Rabbi…
Benar kata ustadz “Allah tidak akan memberikan apa yang kita minta, tapi Dia akan selalu memberikan apa yang kita butuhkan”. Subhanallah memang, aku baru menyadari makna dari statemen tersebut.
Aku jadi teringat. Dulu aku pernah mengatakan, “Ällah begitu mengerti aku ya, saat aku harus menyediakan budget yang cukup tinggi untuk bayar sewa rumah (karena serumah cuma berempat), allah mengantarkan rezeki itu melalui pintu Bait al-Zakat dengan nilai JJ. Cukup besar jumlah beasiswa yang aku terima, dan sangat sesuai dengan kebutuhanku kala itu, ya sangat pas”.
Dan Allah pun tahu, sekarang aku sudah tidak tinggal di tempat yang sama. Aku tak perlu mengeluarkan biaya sebesar sebelumnya untuk sewa rumah. Dan itulah jawaban Tuhan untukku. Mungkin dia tidak ingin mempersulitku saat LPJ dengan-Nya nanti, di sana. Terimakasih Rabbi…
Kau tahu apa yang aku butuhkan.
Hanya saja, anehnya…
Aku merasa natijah tahun ini lebih indah dari dua tahun sebelumnya.
Aku menyadari banyak hikmah
Aku menyadari ketidak sadaranku
Aku menyadari Allah begitu menyayangiku
Terimakasih Rabbi…
Regards
El_Funny
070808 =>10:40
Posted by Mara el_Funny at 3:37 AM 0 comments
Detik-detik natijahku
Benar-benar hari yang menegangkan. Detik-detik dimana natijah mulai turun. Saat dimana para masisir harus mempersiapkan mental untuk menerima natijah, seandainya saja kemungkinan yang terburuk itu terjadi.
Ah, benar-benar saat yang menyebalkan. Tapi justru di sinilah seninya, ha3x. Saat ketakutan itu begitu memuncak, saat semua tak bisa terprediksi, saat harus memaksa diri untuk bisa menerima segala kemungkinan yang kan terjadi.
Hanya ada dua kemungkinan, Najah dan Rashib. Rabbi, berikan kemungkinan pertama pada kami. Mungkin juga hanya ada dua pilihan; senyuman atau tangisan. Saat dimana orang-orang mulai mereplay memori ujian mereka masing-masing, untuk sebuah prediksi yang ujung-ujungnya juga wallahua‘lam.
Dan aku?
Bagaimana dengan aku?
Aku baru sadar, mempertahankan lebih sulit dari pada meraihnya. Dua tahun dengan taqdir yang cukup memuaskan itu membuatku merasa seribu kali lebih takut.
Banyak ‘seandainya’ yang muncul di otakku. Memenuhi memori optimisku. Mendelete sebagian kepercayaan diriku. Meski aku tahu, itu bukanlah aku. Aku selalu percaya, that the one is what he thinks. Dan mungkin juga aku. Aku selalu percaya dengan kepercayaan Tuhan padaku. Dengan segala rasa tawadhu’ku pada-Nya, aku selalu berharap Dia menitipkan kepercayaan-Nya untuk ku memegang amanah cantik-Nya.
Tahun pertamaku, Jayyid. Tak ada perasaan apapun, kecuali rasa syukur yang sangat atas kepercayaan Tuhan padaku. Terimakasih Tuhan, terimakasih ya Allah. Mungkin Tuhan percaya, aku akan lebih semangat dengan predikat itu. Mungkin Dia yakin aku tidak akan sombong dengan itu. Mungin Dia memberiku sebuah motivasi untuk lebih baik selanjutnya. Mungkin juga itu bentuk penghargaanya padaku. Mungkin juga karena Allah menyayangiku. Terimakasih Tuhan.
Terimakasih engkau memberi motivasi bukan melalui sebuah kegagalan. Terimakasih engkau menaburkan benih semangat melalui sebuah awal yang cukup baik. Namun maafkan hamba, saat takabur itu sempat terlintas. Saat jiwa narsis itu sempat muncul. Yah, meski hamba tahu kau selalu membantu hamba untuk segera menepisnya. Karena hamba tahu engkau tahu hamba adalah manusia; tempat kesalahan itu bermukim.
Tahun keduaku, Jayyid Jiddan. Sekali lagi Allah memberiku sebuah kejutan yang begitu mengagumkan. Padahal ada insiden yang cukup mengerikan bagiku. Bagaimana tidak, aku sempat mengalami salah madah di tahun kedua ini, tepatnya term kedua. Karena keteledoranku yang sedikit meremehkan peran konfirmasi informasi yang valid, akhirnya satu madah menjadi korban. Ulumul Haditsku hancur. Kurang 3 poin untuk sampai pada nilai maqbul. Tapi tentu saja dengan izin-Nya, akhirnya nilai al-Quránku bisa me rafa’ tiga poin tersebut. Dan alhamdulillah, itulah hadiah Tuhan untukku di tahun keduaku.
Aku menerima informasi natijah ketika berada di rumah. Kebetulan sekali tahun 2007 kemarin aku di izinkan pulang oleh orang tuaku, dan Allah tentunya. Fiiuuh, benar-benar nggak nyangka, aku bisa sampai pada predikat itu. Perasaan hopeless ku sudah mendominasi. Apalagi saat itu aku sedang berhadapan secara langsung dengan orang-orang tercintaku, yang pastinya kepada merekalah aku mempertanggung jawabkan hasil perantauanku. Ketakutan memang sempat memuncak, tapi aku tahu mereka tak akan pernah memojokkanku dengan tuntutan-tuntutan mereka, yang selama ini sengaja ku lukiskan sendiri di otakku. Yah, sekedar untuk motivasi.
Dan itulah kejutan Allah untukku. Meski keteledoran itu sempat ku lakukan, namun Allah tak pernah teledor padaku. Dia selalu berhasil membuatku menjadi seorang hamba yang begitu malu atas nikmatNya. Sekali lagi terimakasih Tuhan.
Hari ini…
Detik ini…
Aku tak bisa memprediksi skenario-Nya untukku.
Aku tahu, Dia bijak. Bahkan sangat bijak.
Apapun itu, pasti ada skenario cantik di baliknya.
[regards]
El_funny
050808 => 00:15
Posted by Mara el_Funny at 3:34 AM 0 comments
Kembali aku memasuki Ramdahan-Mu Rabb…
Izinkan aku masuk dengan indah
Masuk pada wadah yang fitri
Aku pun ingin menjalaninya dengan fitri
Tentu saja, karena aku menginginkan menjadi fitri nantinya
Tapi aku selalu saja masih futur
Entah kemana diriku yang sedang tak bersama-Mu
Melancong ke negeri tiada arah
Tanpa beban dan seakan tak berdosa
Mengaku kuat dengan segala kelumpuhan
Nampak tegar dalam balutan kerapuhan
Tersenyum dalam airmata penyesalan
Dan sayangnya
Aku hanya mampu melukisakan penyesalan itu
Dengan liukkan kataku
Dengan semburat lusuh wajahku
"saja"
Tak ada yang istimewa
Sedang aku hanya "sedang" mencoba untuk melakukannya
Aku hanya mahir berapologi
Dengan-Mu yang sebenarnya tak membutuhkannya
Bukan lagi hitungan bulan ataupun hari
Kau tlah jawab rinduku pada-Mu
Kau kirimkan Ramadhan-Mu untukku
Kau sediakan ruang lapang
Untukku yang sedang ingin berlari
Dan tertatih mengejar-Mu
Posted by Mara el_Funny at 12:26 AM 0 comments
Hanya tinggal beberapa hari lagi.
Ramadhan yang kita tunggu-tunggu akan tiba juga. ALHAMDULILLAH...semoga kita semua benar-benar siap untuk menyambut dan menjalaninya.
Masuk fitri, dengan fitri dan untuk fitri => Masuk bulan Ramadhan yang fitri, dengan diri dan jiwa yang fitri, untuk menjad pemenang (fitri) di hari yang fitri nanti.
Semoga Ramadhan kali ini, Kita benar-benar bisa menjadi HAMBA ideal yang di inginkan-Nya, amin.
[regards]
Posted by Mara el_Funny at 1:23 PM 0 comments
